Putus Komunikasi dengan 'Mantan'  Ternyata Bisa Bikin Otak Lebih Sehat
Ilustrasi komunikasi telpon dari mantan. (Foto: Adis/TIMES Indonesia)

Putus Komunikasi dengan 'Mantan' Ternyata Bisa Bikin Otak Lebih Sehat

Sebagian orang memutuskan untuk lost contact atau memutus komunikasi dengan mantan kekasih ketika hubungan berakhir. Salah satunya karena untuk memulihkan hati, agar bisa melanjutkan

TIMES Banjar,Sabtu 3 Januari 2026, 04:00 WIB
388.6K
A
Adis Cahyana

CIAMISSebagian orang memutuskan untuk lost contact atau memutus komunikasi dengan mantan kekasih ketika hubungan berakhir. Salah satunya karena untuk memulihkan hati, agar bisa melanjutkan hidup dan menemukan pasangan baru.

Ternyata, lost contact juga memiliki manfaat lain, terutama untuk otak, seperti apa?

Lost contact baik untuk otak

Lost contact berarti berhenti berinteraksi dengan mantan dalam bentuk apa pun. Tidak lagi berkirim pesan, menelepon, mengomentari postingan, apalagi bertemu secara langsung. Bagi sebagian orang, langkah ini terasa ekstrem. Namun ternyata, memutus kontak justru bisa membawa dampak positif, khususnya bagi kesehatan mental dan kerja otak.

Lost contact adalah memutus seluruh komunikasi dengan mantan pasangan, yang mencakup tidak menelepon, tidak bertukar pesan, tidak chatting, mengobrol, tidak menyukai unggahan di media sosial, dan tidak bertemu.

"Secara psikologis, otak manusia cenderung terus mengingat hal-hal yang belum dianggap selesai. Ketika hubungan berakhir tapi komunikasi masih berjalan, otak menganggap “bab” itu belum benar-benar ditutup. Tetap berkontak dapat mencegahmu menutup lembaran lama, karena otak manusia diprogram untuk menutup lingkaran," ujar Psikolog, Ari Afandi kepada TIMES Indonesia, Jumat,(2/1/2026). 

Akibatnya, lanjut Ari, seseorang bisa terjebak pada kenangan lama, sulit move on, bahkan membayangkan skenario seolah hubungan masih bisa diperbaiki.

"Dengan berhenti berhubungan, lingkaran pikiran itu perlahan tertutup. Otak akhirnya berhenti mencari-cari akhir yang lain, sehingga seseorang bisa fokus pada masa depan," jelasnya.

Lost contact juga menghindarkan kita dari sinyal-sinyal palsu yang muncul akibat interaksi kecil dengan mantan, seperti salah mengartikan sapaan atau komentar ringan sebagai tanda masih ada harapan.

Selain itu, lost contact memberi kesempatan pada otak untuk “reset” terhadap dopamin, yaitu hormon yang membuat kita merasa bahagia ketika mendapat perhatian dari pasangan. Tanpa stimulasi dari mantan, otak belajar mencari sumber kebahagiaan baru, baik dari hobi, lingkungan pertemanan, maupun aktivitas lain yang lebih sehat.

Tidak heran, banyak orang yang berhasil move on lebih cepat setelah memilih langkah ini. Walaupun awalnya berat, menghindari komunikasi dengan mantan bisa membantu menjaga kewarasan, menyeimbangkan emosi, dan mempercepat proses pemulihan hati.

Singkatnya, lost contact bukan sekadar menjauh, melainkan cara efektif untuk memberi ruang bagi otak dan hati agar bisa benar-benar pulih. Kadang, melepaskan justru menjadi kunci utama untuk melangkah lebih ringan ke babak hidup berikutnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Adis Cahyana
|
Editor:Bambang H Irwanto

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Banjar, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.