Kurangi Kecanduan Gawai, Mahasiswa KKN UMTAS Ajak Anak PAUD Kota Banjar Main Permainan Tradisional
Siswa PAUD Dahlia Kelurahan Karangpanimbal Kecamatan Purwaharja Kota Banjar diajak bermain engklek, congklak, egrang batok hingga lompat tali.
BANJAR – Di tengah gempuran gawai (gadget), mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (UMTAS) membawa anak-anak kembali ke lapangan.
Melalui program 'Permainan Tradisional Berbasis Budaya Lokal sebagai Media Stimulasi Anak Usia Dini', KKN RPL UMTAS mengajak siswa PAUD Dahlia Kelurahan Karangpanimbal Kecamatan Purwaharja Kota Banjar untuk bermain engklek, congklak, egrang batok dan lompat tali.
Dijabarkan Fitri Hoerotika Dewi selaku ketua kelompok KKN bahwa program ini tidak hanya bertujuan mengasah aspek perkembangan anak, tetapi juga menanamkan kecintaan pada budaya lokal sejak dini.
"Kegiatan ini berlangsung selama tiga minggu di PAUD SPS Dahlia dengan mengusung konsep belajar sambil bermain. Setiap jenis permainan dipilih secara khusus karena memiliki manfaat stimulasi yang berbeda untuk anak usia 3 hingga 6 tahun," beber Fitri, Senin (7/9/2026).
Mabfaat Permainan Tradisional
Permainan pertama adalah engklek yang melatih keseimbangan dan konsentrasi. Permainan lompat kotak ini menggunakan kapur dan pecahan genteng sebagai 'gaco', di mana anak diajak melompat dengan satu kaki sambil menjaga keseimbangan.
Aktivitas ini bermanfaat mengasah motorik kasar, koordinasi tubuh, menghitung kotak, serta melatih fokus dan giliran bermain.
Selanjutnya, permainan congklak dimanfaatkan untuk stimulasi kognitif dan berhitung. Menggunakan papan congklak dari kayu dan biji-biji sawo, anak diajak belajar memasukkan biji satu per satu ke dalam lubang secara bergantian.
Manfaatnya adalah melatih kemampuan berhitung, strategi sederhana, kesabaran, serta sportivitas dengan nilai budaya kejujuran yang ditanamkan saat bermain.
Permainan ketiga adalah egrang batok yang bertujuan menguatkan motorik dan keberanian. Egrang ini dibuat dari batok kelapa dan tali, lalu anak belajar berjalan dengan menyeimbangkan tubuh di atasnya.
Permainan ini berguna untuk menguatkan otot kaki, melatih keseimbangan, keberanian, dan kerja sama saat saling memegangi, sekaligus mengenalkan anak pada pemanfaatan bahan alam di sekitar mereka.
Sementara itu, permainan lompat tali difokuskan untuk meningkatkan kemampuan sosial emosional. Dua anak bertugas memegang ujung tali sementara anak lainnya bergantian melompat dengan ketinggian tali yang dinaikkan secara bertahap sesuai kemampuan.
Permainan ini melatih kelincahan, daya tahan tubuh, kerja sama tim, dan kemampuan mengikuti aturan. Sambil melompat, anak-anak juga menyanyikan lagu daerah sehingga perkembangan bahasa dan irama mereka ikut terstimulasi.
Permainan Sebagai Media Belajar
Fitri Hoerotika Dewi menegaskan pentingnya media belajar sederhana berbasis budaya.
"Kami ingin menunjukkan bahwa media stimulasi tidak harus mahal. Permainan tradisional berbasis budaya lokal ini sederhana, murah, tapi dampaknya besar untuk tumbuh kembang anak dan pelestarian budaya," ujarnya.
Melalui keempat permainan tersebut, KKN UMTAS berharap anak-anak PAUD Dahlia dapat tumbuh menjadi generasi yang sehat secara fisik, cerdas secara kognitif, dan memiliki jati diri budaya.
Program ini menjadi salah satu wujud pengabdian mahasiswa untuk masyarakat sekaligus upaya menjaga warisan budaya agar tidak punah ditelan zaman.
Kepala PAUD Dahlia, Eti Hendayati, menyampaikan apresiasinya atas keberlangsungan program ini.
"Dengan adanya permainan ini, anak-anak kini menjadi lebih aktif, ceria, dan mau berinteraksi, serta menjadi tahu permainan yang dulunya sering dimainkan oleh orang tua mereka," ungkapnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.