Terapkan Skema Sekolah Maung, Jalur Prestasi SMAN 1 Kota Banjar Justru Sepi Peminat karena Syarat Ini
SPMB SMAN 1 Kota Banjar (Sekolah Maung) tutup 29 Mei 2026. Kuota 384 kursi, pendaftar melebihi. 90% pilih jalur rapor, nilai minimal 85. Jalur non-akademik minim piagam provinsi.
BANJAR – Proses Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) di SMA Negeri 1 Kota Banjar tahun ajaran baru resmi ditutup pada Jum'at (29/05/2026) pukul 23.00 WIB.
Sebagai salah satu sekolah yang ditunjuk dalam transformasi Sekolah Maung, pelaksanaan seleksi tahun ini membawa skema baru yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, salah satunya adalah dihapuskannya sistem zonasi.
Ketua Panitia SPMB SMAN 1 Kota Banjar, Abdus Sodik, mengungkapkan bahwa secara keseluruhan proses pendaftaran yang berlangsung sejak 25 Mei hingga 29 Mei 2026 berjalan dengan aman dan lancar.
"Alhamdulillah secara keseluruhan berjalan lancar. Walaupun pada satu dua hari pertama sempat ada kendala teknis biasa seperti jaringan karena baru pembukaan pendaftaran, namun semua bisa teratasi," ujar Abdus Sodik saat dikonfirmasi di lingkungan sekolah, Sabtu (30/5/2026).
Pendaftar Melebihi Kuota Daya Tampung
Untuk tahun ini, SMAN 1 Kota Banjar membuka kuota sebanyak 384 kursi yang terbagi ke dalam 12 rombongan belajar (rombel).
Hingga hari terakhir pendaftaran, jumlah peserta yang memasukan data ke sistem dinilai sudah memenuhi bahkan melebihi kuota daya tampung yang disediakan.
Meski ada lonjakan, Abdus Sodik memastikan bahwa kapasitas ruang belajar di Smansa Banjar tetap aman dan tidak akan ada penambahan rombel melebihi batas ideal sekolah.
Didominasi Jalur Akademik Nilai Rapor
Smansa Banjar membuka empat jalur masuk dengan persentase kuota yang telah ditentukan yaitu:
1. Jalur Kompetensi Akademik (Nilai Rapor): 50% (192 siswa)
2. Jalur Kompetensi Minat Akademik: 20% (77 siswa)
3. Jalur Non-Akademik (Kejuaraan & Kepemimpinan): 20% (77 siswa)
4. Jalur Potensial Akademik (IQ): 10% (38 siswa).
Dari keempat jalur tersebut, Abdus Sodik menyebutkan hampir 90% pendaftar menumpuk pada jalur akademik nilai rapor.
"Sebagai Sekolah Maung, ketetapan standar nilai yang diterapkan memang cukup tinggi. Untuk jalur akademik, sistem akan otomatis menolak pendaftar yang memiliki rata-rata nilai rapor di bawah 85. Sementara untuk jalur non-akademik, batas minimal rata-rata nilai rapor dipatok di angka 80," tuturnya.
Mekanisme Seleksi dan Sistem Perankingan
Menanggapi total pendaftar yang melebihi kuota, Ketua panitia SPMB ini menegaskan bahwa kelulusan akan ditentukan melalui sistem perankingan otomatis oleh sistem, bukan berdasarkan siapa yang paling cepat mendaftar.
"Sekolah hanya bertugas memverifikasi kelengkapan berkas fisik. Kalau berkasnya tidak lengkap atau nilai tidak sesuai, tidak bisa lanjut ke tahap berikutnya. Begitu diverifikasi lengkap, data dilempar ke sistem pusat untuk diolah dan diranking," jelas Sodik.
Ditambahkannya.bahwa formulasi penilaian pun berbeda di tiap jalur. Untuk jalur rapor, kelulusan dihitung dari gabungan rata-rata nilai rapor semester 1-5 sebesar 40% dan nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) dari Dapodik sebesar 60%.
"Sementara untuk jalur non-akademik kejuaraan, penilaian diambil dari 40% nilai rapor dan 60% skor piagam," bebernya.
Catatan Evaluasi: Minimnya Piagam Tingkat Provinsi di Kota Banjar
Penerapan regulasi Sekolah Maung yang memprioritaskan warga Jawa Barat dan menghapus sistem zonasi ini menyisakan catatan evaluasi mendalam bagi panitia.
Pasalnya, Smansa Banjar kini tidak bisa lagi menerima calon siswa dari luar provinsi (seperti wilayah perbatasan Jawa Tengah) yang biasanya banyak mendaftar. Selain itu, kuota untuk jalur prestasi non-akademik kejuaraan terpantau masih sepi peminat dan berada di bawah target kuota.
Hal ini terjadi karena syarat minimal piagam kejuaraan untuk Sekolah Maung minimal harus di tingkat Provinsi, Nasional, atau Internasional.
"Anak-anak kita di Kota Banjar sebenarnya punya potensi besar yang tidak kalah dengan kota-kota besar. Namun kendalanya ada di administrasi, rata-rata piagam yang dimiliki masih di tingkat kota, sehingga sistem otomatis mengunci dan tidak bisa lanjut," kata Sodik menyayangkan.
Menutup keterangannya, Abdus Sodik berharap realitas ini bisa menjadi bahan evaluasi ke depan bagi instansi terkait di Kota Banjar agar lebih sering menyelenggarakan kompetensi atau kegiatan pemuda di level provinsi.
"Ke depan harus diperbanyak kegiatan level provinsi di Banjar, supaya siswa-siswa SMP di Kota Banjar punya kesempatan ikut, mendapat piagam yang linier, dan bisa memanfaatkannya untuk masuk ke sekolah yang mereka impikan," pungkasnya. (Susi/TI)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.